Sore ini aku melangkah keluar, bermodalkan lembaran-lembaran uang seibuan di tanganku, aku berniat membeli sedikit beras untuk makan malam hari ini. Agak berbeda kali ini, tak berhenti memperhatikan mimik wajah stiap orang yang lewat di depanku. Seakan turut merasakan apa yang ada dalam pikiran mereka, penatnya sore yang mereka jalani, hari hari yang membosankan di kantornya, atau mungkin problema kehidupan yang tak kunjung berakhir. Ya, sore ini tampak begitu melelahkan.
Wajah-wajah berpeluh itu terus hilir mudik di depanku, sampai akhirnya mataku tertuju pada kedai yang menjual beras tak jauh dari tempat tinggalku. di sana ada seorang bapak penjual agar-agar yang mengantarkan dagangannya. Dia mengenakan baju koko dan spatu boot. Kulitnya hitam legam terbakar matahari, tampaknya dia sudah lama menekuni profesi itu. Berkeliling kota mengantarkan dagangannya, dari kedai A ke kedai B setiap harinya.
Tapi ada hal yang berbeda dengan dirinya, senyumnya begitu tulus, seakan tak sedikit pun ada beban di wajahnya. Padahal menurutku bapak tersebut sangat lelah hari ini. Saat aku merasakan panasnya mesin motor yang sampai menyengat kakiku, pasti hari ini dia sudah berjalan jauh sekali. Tapi entah kenapa tak sedikit pun rasa lelah itu terpancar dari wajahnya.
Aku melanjutkan membeli sekantung beras yang tadi di pesankan kakakku, namun perhatianku tak bisa luput darinya. Pemilik kedai itu ternyata menolak membeli dagangannya, mungkin agar-agar itu kurang laku disini. bapak tersebut tetap tersenyum dan permisi kepada pemilik kedai tersebut. "ahh ramah sekali bapak ini" pikirku, yang aku tahu di tolak mentah-mentah itu sangat menyakitkan. tapi dia bisa dengan tegar mengahadapi itu, bahkan dengan senyuman.
Sesaat sebelum dia pergi, ada seorang anak kecil yang berdiri didekatnya, memandangi agar-agar itu. Sepertinya warna makanan itu membuatnya tertarik, namun anak kecil itu hanya terpaku bagaikan anak malang yang berdiri di sisi kaca sebuah restoran dan memandang makanan-makanan enak di dalamnya. Kulihat bapak tersebut turun kembali, dia mendekati anak tersebut dan berkata "kamu mau ya? sini uwak kasih".
Yang terjadi kemudian, beliau memberikan makanan kecilnya secara cuma cuma pada anak tersebut. Aku memperlambat langkahku untuk mendengar apa yang ia katakan pada anak tersebut. sayup sayup terdengar beliau sedang membacakan doa padanya. Subahanallah, suaranya begitu merdu bagaikan seorang Qori' yang membaca Al -Qur'an. Do'a yang begitu syahdu itu dibacakan kemudian beliau meniup kepala anak tersebut.
Langkahku benar-benar terhenti, aku sangat penasaran, kemudian aku bertanya padanya "ga rugi pak di kasih gitu? itu barusan bacain do'a apa pak?". Beribu pertanyaan terlintas di kepalaku sebelum akhirnya dia berdiri dan tersenyum. "nak rezki itu datang dari Allah, apa yang harus aku takutkan" potongnya sambil berjalan kembali ke sepeda motornya. "oh ya anak muda, kalau kamu sedang dalam masalah, adukan lah hanya pada Allah ya" serunya kemudian berlalu.
Aku terpaku, kulihat beliau semakin menjauh."kenapa dia berkata begitu?" "kenapa wajahnya begitu bahagia?" "kenapa dia membacakan do'a kepada anak yang tak dikenalnya?" dan yang teraneh adalah "bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau aku dalam masalah?".

nice story ubit.
mungkin diatas kepala ubit ada plang bertuliskan "sedang dalam masalah", ahaha..
^^,
hahaha, bisa jadi
Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D